Hidup Berdampingan dengan Aktivitas Vulkanik
Suara gemuruh dari dalam perut bumi sudah menjadi musik yang familiar bagi ribuan petani di lereng-lereng gunung berapi Indonesia. Bagi mereka, letusan bukan lagi peristiwa yang memicu kepanikan, melainkan bagian dari ritme kehidupan sehari-hari. Pengalaman puluhan tahun berinteraksi dengan alam yang ganas telah mengajarkan mereka cara membaca tanda-tanda alam dan menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan yang berubah-ubah.
Realitas ini terjadi pada petani-petani yang mengusahakan lahan di daerah rawan erupsi. Mereka bukan hanya menghadapi tantangan iklim biasa atau fluktuasi harga pasar, tetapi juga ketidakpastian yang datang dari aktivitas geologi bumi di bawah kaki mereka. Meskipun kondisinya berat, banyak di antara mereka tetap memilih untuk tinggal dan terus bercocok tanam dengan cara-cara adaptif yang mereka kembangkan sendiri.
Belajar Membaca Tanda-Tanda Alam
Ketika abu dan pasir vulkanik mulai membumbung ke langit, tindakan pertama yang dilakukan petani berpengalaman bukanlah melarikan diri dengan panik. Sebaliknya, mereka langsung mengamati arah angin. Pengetahuan sederhana namun sangat praktis ini menjadi semacam radar natural yang membantu mereka memprediksi apakah lahan pertanian mereka akan terkena dampak atau terselamatkan dari material vulkanik yang jatuh.
Sistem prediksi lokal semacam ini tidak ditemukan dalam buku panduan pertanian modern manapun. Ini adalah warisan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, diperkaya melalui pengalaman menghadapi berbagai jenis erupsi sepanjang tahun-tahun mendiami kawasan tersebut. Setiap letusan membawa pelajaran berharga tentang pola angin, intensitas material yang jatuh, dan dampak jangka pendek maupun panjang terhadap lahan pertanian.
Kerugian Material yang Terus Menumpuk
Namun pemahaman mendalam tentang alam tidak bisa sepenuhnya melindungi hasil kerja mereka. Data menunjukkan bahwa lebih dari tiga ribu hektar lahan hortikultura di kawasan tersebut telah terdampak secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tanaman-tanaman bernilai tinggi seperti cabai, kentang, dan bawang—yang merupakan sumber penghasilan utama—seringkali rusak total ketika material vulkanik yang kasar dan berbersifat abrasif menutupi seluruh bidang lahan.
Kerugian bukan hanya sekadar kehilangan satu kali panen. Tanah yang sebelumnya subur berubah karakternya setelah tertimbun material vulkanik. Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membersihkan lahan, memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, serta membeli input produksi dengan jumlah lebih banyak untuk mencapai hasil yang sama seperti sebelumnya. Ini adalah beban ekonomi berkelanjutan yang terus menghimpit margin keuntungan mereka.
Perjuangan Bertahan dan Adaptasi Mandiri
Ketika erupsi besar melanda pada akhir tahun 2023, banyak petani kehilangan seluruh hasil panen mereka dalam sekejap mata. Selama berbulan-bulan, mereka terpaksa mencari pekerjaan harian atau berkebun di lahan orang lain hanya untuk memastikan keluarga mereka masih bisa makan. Beberapa bahkan harus menambah beban hutang untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan tanda-tanda bahwa aktivitas gunung mulai berkurang, petani secara bertahap kembali ke ladang mereka. Proses pemulihan ini tidak cepat—memerlukan investasi ulang dalam membeli benih, pupuk, dan mempersiapkan tanah yang masih banyak mengandung material vulkanik. Untuk mempercepat proses ini, beberapa petani rela menyewa lahan tambahan dengan biaya cukup besar hanya untuk memutar kembali roda ekonomi pertanian mereka.
Tantangan Berlapis: Gunung, Cuaca, dan Pasar
Masalahnya, ketika petani berhasil mengatasi dampak langsung dari erupsi, mereka langsung dihadapkan pada tantangan berikutnya: cuaca yang tidak dapat diprediksi. Kemarau yang panjang memaksa mereka mengeluarkan biaya irigasi tambahan yang sangat substansial. Setiap kali hujan tidak turun untuk beberapa hari, mereka harus mendatangkan air menggunakan mobil tangki, dengan biaya per pengiriman yang cukup menguras kantong mereka.
Di tengah semua beban ini, harga komoditas pertanian masih berfluktuasi sesuai dengan dinamika pasar yang tidak selalu menguntungkan. Petani adalah pihak yang paling lemah dalam rantai pasar, sering menerima harga yang jauh lebih rendah dari yang mereka harapkan ketika hasil panen berlimpah di pasar.
Sistem Dukungan yang Belum Cukup Memadai
Meski petani telah menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam menghadapi berbagai tekanan, sistem mitigasi bencana yang tersedia masih sangat terbatas dan sebagian besar bergantung pada upaya mandiri mereka. Aktivitas vulkanik masih dalam status waspada dengan rata-rata puluhan erupsi setiap bulannya, menunjukkan bahwa ancaman belum berlalu.
Yang dibutuhkan kini bukan hanya apresiasi terhadap ketangguhan petani lokal, tetapi dukungan sistematis dan terstruktur yang mencakup pendampingan teknis, penyediaan sarana mitigasi yang lebih baik, serta kebijakan ekonomi yang memberikan perlindungan sosial yang lebih kuat bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana. Pengetahuan lokal harus diintegrasikan dengan teknologi dan kebijakan modern untuk menciptakan sistem pertahanan yang lebih robust.
Petani-petani di lereng gunung api ini adalah contoh nyata bagaimana manusia bisa beradaptasi dengan kondisi paling menantang sekalipun. Namun adaptasi mereka seharusnya menjadi titik awal, bukan titik akhir, dari komitmen kita untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan aman bagi generasi mendatang.